[PROSA] : Teruntuk Kau yang Kelak Akan Membersamaiku

[PROSA] : Teruntuk Kau yang Kelak Akan Membersamaiku

Teruntuk kau, yang Allah takdirkan akan membersamaiku kelak.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.

Saya menuliskan ini selepas subuh kamis, pekan ketiga di juni dua ribu dua puluh dua. Langit kamar terlihat dingin, saya menatapnya sembari memikirkanmu yang saat ini sedang di belahan bumi mana dan sedang melakukan apa.

Aku menebak: bisa jadi kau sama sepertiku, memikirkan hal-hal di pagi hari. Atau bisa jadi sedang olahraga, atau bersiap berangkat kerja, atau, atau, aih, saya tidak memiliki ide lagi untuk menebak, harapanku semoga apapun yang sedang kau lakukan sekarang, semoga Allah senantiasa menjagamu.

Murottal terdengar syahdu, menggema memenuhi langit-langit kamar yang dingin.

Sebelum melanjutkan tulisan ini, bagusnya saya memanggilmu dengan sapaan apa? Abang, mas, abi, suka yang mana coba? Wkkw. Saya bercanda, tentu saja. maksudku terlalu awal untuk menanyakan cara memanggil yang bahkan bisa jadi kau tidak membaca tulisan ini. Nanti sajalah, nanti saat Allah takdirkan bertemu, mari berdiskusi soal bagaimana cara saya akan memanggilmu. Oke tah?

Baiknya, kuceritakan sedikit tentang saya. Saya adalah perempuan yang banyak kurangnya. Maka kelak, semoga kau mampu menerimaku dengan sebaik-baiknya, seridha-ridhanya.

Saya adalah perempuan sederhana, lebih suka ketenangan dibandingkan keriuhan. Lebih suka buku daripada bunga, lebih suka keripik daripada coklat. Sekilas itu saja, nanti saat bertemu kau tanya saja tentangku. Apa saja, terserah. Oke, tah?

Langit kamar terlihat lebih hangat. Tidak ada kopi, pagi ini. Oh iya, berbicara soal kopi, kau lebih suka kopi atau teh? Kalau saya, lebih suka senyum engkau sih. Senyum saat kubawakan segelas kopi atau teh untuk kau minum sebelum kau sibuk. Hehehe. Apa itu garing? Maafkan, saya awak. Biasalah. Menuliskan ini membuat saya gugup. Wkkw.

Saya membuka jendela, langit bumi yang jauh terlihat indah. Birunya selalu menenangkan, seperti tatapmu. Kau tahu, salah satu yang membuat saya harus berlari-lari menuju kelas, menuju tempat tujuan, adalah karena terlalu banyak menghabiskan waktu menatap langit.

Tidak tahu kenapa, tapi langit memang selalu cantik, selalu teduh, seperti bola matamu. Eh. Apa itu garing? Maafkan saya, awak. Biasalah. Menuliskan ini membuat saya gugup. Wkkw Dan, sebelum tulisan ini berakhir, saya ingin bilang:

"Saat nanti kita bertemu, dan kita disatukan dalam rumah bernama tangga, jangan lupakan bahwa menikah tidak langsung membuat saya mampu menjadi isteri terbaik. Saya perlu belajar, perlu menyesuaikan diri dengan baik. Saya butuh waktu untuk mempraktikan ilmu-ilmu tentang kehidupan pernikahan yang saat ini kupelajari sedikit demi sedikit. Saya harap semoga engkau memakluminya dan mampu bersabar untuk menjalani perjalanan terus membaik bersama-sama. Bersedia, ya?"

Senyum dulu, kalau begitu. Esok lusa saya menulis lagi untukmu. Semoga Allah menjaga kita selalu, sampai bertemu.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url