[PROSA] : Wahai Perempuanku

Akhir-akhir ini aku banyak menemui perempuan yang menangis. Air matanya tumpah di banyak sudut. Pada sudut kota padahal hujan sudah reda, pada sudut desa dibawah temaramnya cahaya suluh, pada persimpangan jalan mati, pada lumpur tergenang. Apakah perempuan semakin lemah wahai?

Akhir-akhir ini aku banyak menjumpai perempuan yang terluka. Organ hati berharga yang seyogyanya terjaga hancur berserakan. Kepingnya berjatuhan, tidak ada apapun lagi disana, kecuali luka yang semakin besar celahnya dari hari ke hari. Apakah perempuan semakin mudah disakiti wahai?

Akhir-akhir ini aku banyak mendapati perempuan yang babak belur dengan kecewanya. Buntu pikirannya, dihujani lelah pengharapan menyebalkan, diracuni janji busuk tanpa pertanggung jawaban. Apakah perempuan semakin mudah dibodohi wahai?

Oleh sebabnya: tulisan ini lahir dan kunamai ia dengan judul: Wahai Perempuanku

Wahai perempuanku yang menangis, kemarilah. Kau tidak lemah, kau itu tangguh. Kau itu berharga. Tidak apa menangis, sebab akhir-akhir ini cuacanya memang buruk. Menangislah, aku tidak akan bertanya. Menangislah, aku tidak akan protes. Menangislah, aku bisa meminjamkan ujung gamis atau khimarku sekalian untuk mengelap air matamu. Atau aku bisa membelikanmu tisu satu pasar bila kau mau. Menangislah. Menangislah wahai perempuanku.

Wahai perempuanku yang dilukai, kemarilah. Biarkan aku memelukmu. Walau tidak mampu menyulam luka, walau tidak dapat membasuh duka, setidaknya pelukan memberimu ketenangan. Seperti yang orang-orang bilang, pelukan akan membawa kepada ketenangan, karenanya: biarkan aku memelukmu. Memberikan energi-energi baik, semoga dengannya membuatmu jauh lebih baik.

Wahai perempuanku yang dikecewakan, kemarilah. Jawablah pertanyaanku dengan baik: berapa banyak harap yang kau terbangkan kepada ia yang tidak bersedia menggenggam? berapa banyak janji busuk yang telah kau hirup hingga membuatmu susah untuk hidup?

Wahai perempuan yang dikecewakan,kemarilah. Harap-harap yang kau terbangkan selama ini tidaklah salah, hanya alamat terbang saja yang salah. Kau menerbangkan kepada dia yang rapuh: manusia. Maka jadikan kecewa ini sebagai pelajaran di masa yang akan datang; kurangilah pelan-pelan harapan pada manusia, biarkan segala harap bermuara kepadanya Allah sang maha pemilik segala.

Wahai perempuan yang dikecewakan, kemarilah. Sebanyak apapun janji busuk yang telah kau hirup, sudahlah. Tidak mengapa, sungguh tidak mengapa. Ada banyak kesempatan di hari esok. Namun pelajarannya adalah: jangan lagi percaya pada janjinya manusia. Sebab pahitnya jelas-jelas nyata.

Wahai perempuanku, aku tiba diujung tulisan, maka izinkanku menutupnya dengan kata-kata:

Tidak masalah bila hari ini kau menangis, kau terluka, kau kecewa. Namun, harapanku: semoga esok lusa kau tidak lagi menangis karena kesakitan, menangislah karena kau bahagia. Semoga esok lusa luka-lukamu mengering dan jangan biarkan lagi luka menyapa tersebab manusia. Semoga esok lusa kau tidak lagi sembarang menyandarkan harap, sembarang janji kau hirup. Pilah-pilahlah.

Wahai perempuanku, kau berharga. Kau sebaik-baik perhiasan. kau adalah pilar peradaban. Jadilah bahagia atau lebih bahagia, esok lusa, bersedia?

Sst, satu lagi wahai perempuanku. Kau lebih cantik saat tersenyum. Maka tersenyumlah :)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url