[PROSA[: Untuk Sementara, Kita Begini Saja.

    

Pada tahun yang aku lewati, ada bulan- bulan dimana aku  begitu mengkhawatirkanmu. Khawatir apakah kau makan tepat waktu, khawatir apakah waktu tidurmu terjaga, khawatir apakah dunia membuatmu terluka, khawatir apabila luka-luka itu membuat senyummu tidak lagi ada. Khawatirku terhadapmu selalu berlebihan, padahal aku hanya ingin mencintaimu saja.

Pada bulan yang aku hadapi, ada pekan-pekan dimana aku begitu mencemaskanmu. Cemas jika kau kelelahan menghadapi dunia yang rumit. Cemas jika kau jatuh sakit. Cemas jika pekerjaanmu tidak berjalan dengan baik. Cemasku terhadapmu selalu berlebihan, padahal aku hanya ingin mencintaimu saja. 

    Pada hari-hari yang aku lalui, ada waktu dimana aku begitu merindukanmu. Kau hadir dalam bentuk apa saja. Pada aroma nasi goreng tanpa kecap, pada halaman buku tebal, pada lantunan nasheed yang tidak sengaja terdengar. Rinduku seabsurd itu, padahal aku hanya ingin mencintaimu saja.

    Meski begitu, kurasa untuk sekarang: Untuk sementara kita begini saja. Aku tidak perlu menghubungi meski khawatirku selalu berlebihan. Aku tidak perlu mengirim pesan meski kecemasan kadang di ujung cemas. Juga aku sama sekali tidak perlu repot-repot merangkai alasan agar aku bisa menemuimu, meski aku tahu kadang rindu sama sekali tidak bisa diajak kerjasama. Segenap kekhawatiran, kecemasan, rindu, kuserahkan kepada Nya Allah yang menciptakanmu. Sungguh, aku mencintaimu dengan segala patuh kepada Tuhan.


-26.10.22

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url